Tanjungpinang (SN) – Pegawai Sekretariat DPRD (Setwan) Kepulauan Riau berinisial H membantah keras tudingan bahwa dirinya menerima uang sebesar Rp700 juta terkait pengadaan tiket keberangkatan peserta Pesparawi Kepri ke Manokwari, Papua Barat.
Menurut H, informasi yang beredar tersebut tidak benar. Ia menegaskan tidak pernah menerima dana Rp700 juta, melainkan justru mengeluarkan uang pribadi untuk membantu pemesanan tiket pesawat dan akomodasi atas permintaan pihak agen perjalanan.
“Saya tegaskan tidak ada menerima uang Rp700 juta itu. Saya hanya menjalankan pemesanan tiket sesuai permintaan. Ada kesepakatan bahwa saya menalangi biaya tiket menggunakan uang pribadi,” kata H di Tanjungpinang, Rabu (1/7/2026).
H menjelaskan, dirinya tidak memiliki hubungan dengan Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kepri maupun panitia penyelenggara. Keterlibatannya, kata dia, murni membantu proses pemesanan tiket setelah dihubungi Direktur PT Rizki Evanti Bersahaja Tour & Travel berinisial VEH pada 11 Juni 2026.
Ia mengatakan, saat itu diminta membantu pengadaan tiket keberangkatan dan kepulangan bagi 65 peserta Pesparawi Kepri dengan estimasi kebutuhan anggaran sekitar Rp700 juta. Namun, nominal tersebut merupakan total nilai kebutuhan perjalanan, bukan dana yang diterimanya.
Menurut H, pada tahap pertama ia membelikan 11 tiket pesawat bagi ofisial Pesparawi tujuan Batam-Manokwari untuk keberangkatan 18 Juni 2026 menggunakan dana pribadi sekitar Rp120 juta. Selain itu, ia juga membayar enam kamar hotel senilai Rp5,76 juta.
Selanjutnya, pada 22 Juni 2026, ia kembali diminta membeli tiket untuk 27 peserta yang dijadwalkan berangkat pada 24 Juni 2026. Untuk kebutuhan tersebut, H mengaku mengeluarkan dana Rp267,67 juta serta membayar dua kamar hotel senilai Rp1,9 juta.
Persoalan muncul ketika rombongan peserta perempuan dijadwalkan berangkat pada 25 Juni 2026. H menyebut penerbangan lanjutan dari Jayapura menuju Manokwari sudah tidak tersedia pada hari yang sama.
“Saat itu rute Jakarta-Jayapura tersedia, tetapi penerbangan Jayapura-Manokwari sudah tidak ada. Kalau dipaksakan berangkat, rombongan tetap tidak bisa langsung ke Manokwari. Pilihannya berangkat keesokan hari, tetapi konsekuensinya peserta tidak bisa bertanding,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut H, telah disampaikan kepada pihak travel. Namun, para peserta akhirnya memutuskan membatalkan keberangkatan dan kembali ke Tanjungpinang.
Sebelum kepulangan rombongan, ia kembali diminta menyediakan 14 kamar hotel dengan biaya Rp9,8 juta serta membeli tiket pesawat rute Jakarta-Tanjungpinang bagi 27 peserta senilai Rp52,1 juta.
Secara keseluruhan, H mengklaim telah mengeluarkan dana pribadi sebesar Rp508.344.751 untuk pembelian tiket pesawat dan pembayaran hotel.
“Total uang yang saya keluarkan mencapai Rp508.344.751. Jadi saya bukan menerima uang Rp700 juta, tetapi justru mengeluarkan dana pribadi untuk memenuhi pesanan tiket dan hotel,” tegasnya. (***)












