Puluhan Ribu Jemaah Tiba di Tanah Suci, Layanan Ramah Lansia Jadi Prioritas

Arus kedatangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Suci terus mengalir. Hingga Minggu (26/4/2026) pukul 18.00 WAS, sebanyak 30.611 jemaah telah tiba, tergabung dalam 78 kelompok terbang (kloter). (F-Kemenhaj)

Madinah (SN) – Arus kedatangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Suci terus mengalir. Hingga Minggu (26/4/2026) pukul 18.00 WAS, sebanyak 30.611 jemaah telah tiba, tergabung dalam 78 kelompok terbang (kloter). Dari jumlah tersebut, 6.172 orang merupakan jemaah lanjut usia (lansia), yang menjadi perhatian utama dalam pelayanan tahun ini.

Sejak mendarat, jemaah langsung disambut dengan rangkaian layanan yang dirancang tertib dan terkoordinasi. Petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara sigap mengawal setiap tahapan, mulai dari penyambutan, pendampingan lansia dan penyandang disabilitas, pengawasan barang bawaan, hingga pengaturan mobilisasi menuju transportasi lanjutan.

Kepala Daker Bandara, Abdul Basir, menegaskan bahwa tingginya jumlah jemaah lansia mendorong pihaknya untuk menghadirkan layanan yang lebih responsif dan manusiawi. Menurutnya, kondisi fisik jemaah yang baru menempuh perjalanan panjang menjadi faktor penting dalam penanganan di bandara.

“Dari total 30.611 jemaah yang tiba, lebih dari enam ribu adalah lansia. Ini menjadi fokus kami agar pelayanan di bandara benar-benar mampu menjawab kebutuhan mereka secara cepat dan tepat,” ujar Abdul Basir di Madinah sebagaiamana dikutip dari alamn Kemenhaj.

Untuk mendukung kenyamanan jemaah, berbagai fasilitas tambahan disiapkan di titik-titik kedatangan. Mulai dari penyediaan pampers bagi lansia yang membutuhkan, mobil golf untuk membantu mobilitas di area paviliun, hingga payung kursi roda yang tersedia di seluruh terminal.

“Fasilitas ini kami siapkan sebagai bentuk ikhtiar agar jemaah, khususnya lansia dan pengguna kursi roda, tetap merasa aman dan terlindungi sejak pertama kali tiba,” jelasnya.

Tak hanya fasilitas, pendekatan pelayanan juga menjadi kunci. Abdul Basir menekankan pentingnya kepekaan petugas dalam membaca kondisi jemaah. Setiap individu memiliki kebutuhan berbeda—ada yang masih kuat berjalan, ada yang perlu didampingi, bahkan ada yang harus segera dibantu dengan kursi roda.

“Petugas harus sigap, tapi juga sabar dan penuh empati. Pelayanan bukan sekadar prosedur, melainkan soal kepedulian terhadap kondisi jemaah,” tambahnya.

Untuk memastikan kelancaran, petugas ditempatkan di berbagai titik strategis, seperti area antrean, pengambilan bagasi, pemeriksaan dokumen, hingga jalur menuju bus. Koordinasi lintas instansi di bandara pun terus diperkuat agar setiap kloter dapat ditangani secara optimal.

Dengan kedatangan jemaah yang masih akan terus berlangsung, Daker Bandara berkomitmen melakukan evaluasi harian guna meningkatkan kualitas layanan.

“Kami ingin setiap jemaah merasa aman, nyaman, dan terbantu. Lebih dari itu, mereka harus merasakan bahwa negara hadir dalam setiap proses perjalanan ibadah haji mereka,” tutup Abdul Basir. (***)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *