Tanjungpinang (SN) – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Penyengat menunjukkan tren positif sepanjang awal 2026. Destinasi berbasis sejarah dan religi ini semakin diminati turis asing, khususnya dari Malaysia, Singapura, hingga Eropa, seiring penguatan daya tarik budaya Melayu-Islam yang khas.
Pulau yang dikenal sebagai pusat lahirnya tata bahasa Melayu melalui karya Raja Ali Haji ini memang menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Statusnya sebagai cagar budaya nasional serta pengembangan wisata halal turut memperkuat posisinya di mata wisatawan internasional.
Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Hasan, menegaskan bahwa peningkatan kunjungan wisman menjadi sinyal kuat bahwa Pulau Penyengat semakin dikenal di kancah global.
“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang ingin merasakan langsung warisan budaya Melayu-Islam,” ujarnya.
Data Januari hingga Maret 2026 mencatat sekitar 6.200 kunjungan wisatawan, dengan kontribusi signifikan dari wisman. Momentum libur nasional dan Hari Raya Idulfitri menjadi pendorong lonjakan kunjungan tersebut.
Hasan menilai, peluang ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat lokal. “Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, khususnya wisman, ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay, dan layanan wisata lainnya,” katanya.
Pengembangan Pulau Penyengat juga sejalan dengan kebijakan Prabowo Subianto yang mendorong pariwisata berkualitas melalui pendekatan regeneratif serta penguatan Gerakan Wisata Bersih. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di bawah Ansar Ahmad terus melakukan pembenahan infrastruktur dan fasilitas guna meningkatkan kenyamanan wisatawan.
“Konsep pariwisata regeneratif ini menekankan bahwa pariwisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu memperbaiki lingkungan, sosial, dan budaya dengan melibatkan masyarakat secara aktif,” tambah Hasan.
Ke depan, berbagai rencana pengembangan seperti pembangunan monumen bahasa dan revitalisasi kawasan adat diyakini akan semakin menarik minat wisatawan mancanegara. Dengan tren kunjungan yang terus meningkat, Pulau Penyengat kian mengukuhkan diri sebagai gerbang wisata budaya Melayu yang mendunia. (***)

