Gubernur Ansar Ungkap Strategi Kepri Hadapi Dampak Konflik Global terhadap Pariwisata

Gubernur Kepri, menjadi narasumber dalam webinar bertajuk “Tourism Under Fire: Menyoroti Kerentanan Sektor Wisata Akibat Eskalasi Konflik Perang Internasional”, Senin (16/3/2026). (F-Diskominfo Kepri)

Tanjungpinang (SN) – Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, menyoroti kerentanan sektor pariwisata di tengah meningkatnya konflik geopolitik dunia saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk “Tourism Under Fire: Menyoroti Kerentanan Sektor Wisata Akibat Eskalasi Konflik Perang Internasional”, Senin (16/3/2026).

Webinar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni NHI Bandung bersama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia tersebut digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti berbagai pemangku kepentingan pariwisata dari seluruh Indonesia.

Gubernur Ansar mengikuti kegiatan tersebut dari Gedung Daerah, Tanjungpinang, didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kepri Hasan, Kepala Dinas Kominfo Kepri Hendri Kurniadi, serta Kepala Bappeda Kepri Aries Fhariandi.

Dalam pemaparannya, Ansar menegaskan bahwa Kepulauan Riau memiliki posisi yang sangat strategis sebagai “Beranda NKRI”, karena berbatasan langsung dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.

Tak hanya itu, wilayah Kepri juga berada di jalur perdagangan internasional Selat Malaka yang sangat vital. Setiap tahunnya sekitar 80 ribu kapal dan 70 juta kontainer melintasi jalur tersebut.

“Posisi strategis tersebut turut mendukung perkembangan sektor pariwisata di Kepulauan Riau,” ujar Ansar.

Ia juga memaparkan capaian sektor pariwisata Kepri yang cukup menggembirakan. Sepanjang tahun 2025, Kepulauan Riau tercatat menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara terbesar ketiga di Indonesia setelah Bali dan DKI Jakarta, dengan total kunjungan mencapai 2.027.037 orang.

Namun demikian, Ansar mengingatkan bahwa dinamika geopolitik global dapat memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata.

Menurutnya, ketegangan antarnegara berpotensi memunculkan travel warning yang dapat memengaruhi persepsi keamanan wisatawan terhadap suatu destinasi. Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia juga dapat meningkatkan biaya transportasi udara maupun laut yang akhirnya berdampak pada mobilitas wisatawan.

“Kepulauan Riau memiliki posisi yang sangat strategis sebagai beranda NKRI dan pintu gerbang wisatawan mancanegara. Karena itu kita harus memperkuat strategi pariwisata agar tetap resilien di tengah dinamika geopolitik global,” tegasnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus melakukan berbagai langkah penguatan sektor pariwisata. Salah satunya dengan mendorong penggunaan autogate di keimigrasian serta optimalisasi kebijakan Visa on Arrival guna mempermudah dan mempercepat akses wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau.

Selain itu, Pemprov Kepri juga memperkuat pengembangan sport tourism dan marine tourism sebagai keunggulan utama daerah kepulauan. Di sisi lain, diversifikasi pasar wisata juga terus didorong melalui penguatan wisatawan nusantara.

Dengan berbagai strategi tersebut, Ansar optimistis target kunjungan 2,7 juta wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau pada 2026 dapat tercapai melalui kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan pariwisata. (Adv)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *