Bintan (SN) – Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi nelayan pesisir Bintan dan Lingga kini dibayangi kekhawatiran. Aktivitas tambang pasir laut yang direncanakan di wilayah perairan mereka dinilai dapat mengancam ruang tangkap ikan hingga masa depan keluarga nelayan.
Kegelisahan itu tumpah dalam aksi damai yang digelar Aliansi Nelayan Pesisir Kabupaten Bintan–Lingga, Selasa (12/5/2026). Puluhan nelayan dari Bintan Timur dan Gunung Kijang turun ke jalan membawa satu tuntutan utama: menolak tambang pasir laut yang dianggap berpotensi merusak ekosistem pesisir dan mematikan mata pencaharian mereka.
Sejak pagi sekitar pukul 09.00 WIB, para nelayan berkumpul di Monumen Relief Kijang. Dengan menggunakan kendaraan lori dan pikap, mereka bergerak menuju Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemerintah.
Baca Juga : Nelayan Pesisir Bintan Bersatu, Desak Pemerintah Hentikan Rencana Tambang Pasir Laut
Di balik aksi tersebut, tersimpan keresahan para nelayan kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil laut. Mereka khawatir aktivitas penambangan pasir akan membuat air laut keruh, merusak habitat ikan, dan mempersempit wilayah tangkap yang selama puluhan tahun menjadi sumber nafkah keluarga.
“Kami hanya ingin laut tetap bisa memberi makan anak-anak kami,” ungkap salah seorang nelayan di tengah perjalanan aksi.
Selama aksi berlangsung, personel Polres Bintan melakukan pengawalan dan pengamanan secara humanis. Polisi tampak aktif berdialog dengan massa aksi serta membantu mengatur arus lalu lintas agar perjalanan menuju Tanjungpinang berlangsung aman dan tertib.
Kapolres Bintan, AKBP Argya Satrya Bhawana melalui jajarannya menegaskan bahwa kehadiran kepolisian tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat menyampaikan pendapat dengan nyaman dan damai.
Baca Juga : Empat Operator Judol Ditangkap di Tanjungpinang, Polisi Dalami Koneksi Luar Negeri
Pengamanan dilakukan sejak massa berkumpul di Kijang hingga tiba di Simpang Dompak dan Kantor DKP Kepri. Kerja sama antara Polres Bintan dan Polresta Tanjungpinang dinilai efektif menjaga kelancaran lalu lintas meski iring-iringan kendaraan nelayan cukup panjang.
“Kami hadir untuk melayani. Tugas kami memastikan bapak-bapak nelayan dapat menyampaikan aspirasi dengan aman sampai tujuan dan kembali pulang ke keluarga dengan selamat,” ujar salah seorang petugas di lapangan.
Situasi tetap kondusif selama aksi berlangsung. Aparat kepolisian juga memfasilitasi pertemuan antara Koordinator Lapangan aksi, Rudi Herdiawan, dengan Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Misni.
Respons cepat pun diberikan Pemerintah Provinsi Kepri dengan menjadwalkan audiensi lanjutan bersama para nelayan di Kijang pada Rabu (13/5/2026). Bagi para nelayan, pertemuan itu menjadi harapan agar suara mereka benar-benar didengar sebelum aktivitas tambang dilakukan.
Setelah menyampaikan aspirasi, massa aksi membubarkan diri secara tertib. Personel kepolisian tetap bersiaga hingga seluruh peserta meninggalkan lokasi guna memastikan perjalanan pulang berlangsung aman tanpa kendala. (***)













