Example 728x250
Berita KepriKESEHATANTanjungpinang

Waspada Hantavirus: Penyakit dari Tikus yang Sering Tak Disadari

11
×

Waspada Hantavirus: Penyakit dari Tikus yang Sering Tak Disadari

Sebarkan artikel ini
Hantavirus menjadi perhatian karena gejalanya yang tidak khas dan sering menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah atau leptospirosis. (Ilustrasi Hantavirus. (F-Mauro Rodrigues-Shutterstock)

Tanjungpinang (SN) – Banyak masyarakat sudah familiar dengan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti demam berdarah dengue dan malaria. Namun, ada ancaman kesehatan lain yang kerap luput dari perhatian, yaitu penyakit yang dibawa oleh tikus, salah satunya hantavirus.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB (Dinkesdalduk KB) Kota Tanjungpinang, Rustam, mengingatkan masyarakat untuk lebih serius menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah utama mencegah penyebaran penyakit ini.

“Prinsipnya, lingkungan kita harus bebas dari tikus. Kebersihan rumah harus dijaga dan sampah harus dikelola dengan baik,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Hantavirus menjadi perhatian karena gejalanya yang tidak khas dan sering menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah atau leptospirosis. Penderita umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga rasa lemas yang sulit dibedakan dari flu biasa.

Kondisi ini membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi. Untuk itu, Kementerian Kesehatan berencana menyiapkan pemeriksaan khusus guna membantu proses deteksi kasus.

“Virusnya ini gejalanya sulit dibedakan karena sama-sama demam. Nanti ada tes dari Kemenkes supaya bisa diketahui,” jelas Rustam.

Rustam menegaskan bahwa hantavirus bukan hanya ditemukan di luar negeri. Di Indonesia, kasus paparan virus ini juga pernah teridentifikasi, dengan tikus sebagai pembawa utama.

Berbeda dengan penyakit yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui urin, kotoran, atau air liur tikus yang mengering dan bercampur debu. Seseorang dapat tertular saat menghirup udara atau debu yang terkontaminasi, terutama ketika membersihkan area yang kotor atau menjadi sarang tikus.

Lingkungan yang tidak terjaga seperti tumpukan sampah, saluran air tersumbat, hingga gudang lembap menjadi tempat ideal bagi tikus berkembang biak. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko penularan penyakit.

Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan masker saat membersihkan area berdebu atau lokasi yang diduga terdapat kotoran tikus, guna mengurangi risiko terpapar virus.

Menurut Rustam, upaya melawan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Pencegahan melalui kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi tikus menjadi langkah paling penting.

“Yang paling penting itu pencegahan. Jangan biarkan rumah kotor dan banyak tikus, karena itu bisa menjadi sumber penyakit,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam yang tidak kunjung membaik, terutama jika tinggal di lingkungan yang banyak ditemukan tikus. (***)

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *