Example 728x250
Berita KepriEKONOMITanjungpinang

Pulau Penyengat Dinilai Siap Jadi Pusat Ekonomi Oranye Berbasis Budaya Melayu

14
×

Pulau Penyengat Dinilai Siap Jadi Pusat Ekonomi Oranye Berbasis Budaya Melayu

Sebarkan artikel ini
Pulau Penyengat, memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kawasan ekonomi oranye berbasis budaya Melayu di Kepri. Terlihat pengunjung saat memasuki Masjid Sultan Riau di Penyengat beberapa waktu lalu. (F-Sketsa)

Tanjungpinang (SN) – Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kawasan ekonomi oranye berbasis budaya Melayu di Kepulauan Riau. Potensi sejarah, budaya, hingga ekonomi kreatif yang dimiliki kawasan itu disebut dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi daerah jika dikelola secara optimal.

Hal tersebut disampaikan Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas RI, Uke Mohammad Hussein, saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang di Kantor Bappelitbang, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga : Batam Jadi Rujukan Daerah dalam Pengembangan Investasi dan Percepatan Pembangunan

Menurut Uke, Kepulauan Riau memiliki kekuatan budaya dan ekonomi kreatif yang cukup menonjol dibanding daerah lain. Pulau Penyengat bahkan dinilai dapat menjadi contoh pengembangan ekonomi oranye berbasis budaya di Indonesia.

“Ekonomi oranye Kepri, termasuk Pulau Penyengat, cukup bagus. Jika dikelola dengan baik, Kepri bisa menjadi contoh,” ujarnya.

Meski memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang besar, Uke menilai potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi wisata di kawasan itu. Namun, ia mengapresiasi berbagai penataan dan pengembangan kawasan budaya Pulau Penyengat yang terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

“Alhamdulillah banyak kemajuan. Tinggal dicari ruang-ruang yang masih bisa diimprove supaya dampaknya lebih besar lagi,” katanya.

Baca Juga : Pemprov Kepri Perkuat Benteng Siber, Siaga Hadapi Ancaman Serangan Digital

Ia menilai Pulau Penyengat kini sudah memiliki kekuatan narasi budaya atau storytelling yang baik, lengkap dengan paket wisata yang mulai tertata. Tantangan berikutnya, kata dia, adalah memperkuat promosi dan pemasaran agar potensi budaya tersebut mampu menarik lebih banyak wisatawan dan memberikan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat.

“Sudah ada storytelling, sudah ada paket wisata, tinggal marketing-nya diperbesar,” lanjutnya.

Selain promosi, Bappenas juga mendorong pembentukan Destination Management Organization (DMO) guna memperkuat pengelolaan destinasi wisata secara berkelanjutan. Menurut Uke, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam pengembangan kawasan wisata budaya.

“Perlu dibentuk DMO itu. Di situ ada pemerintah, private sector, dan komunitas masyarakat sehingga pengelolaan destinasi bisa lebih kuat,” jelasnya.

Bappenas juga berencana melibatkan Direktorat Pembangunan Indonesia Barat dan Direktorat Pemajuan Kebudayaan untuk mendukung pengembangan Pulau Penyengat sebagai kawasan wisata budaya unggulan.

“Kita juga akan berkoordinasi dengan Direktorat Pemajuan Kebudayaan guna mendukung pengembangan kawasan berbasis budaya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bappelitbang Kota Tanjungpinang, Riono, menegaskan Pemerintah Kota Tanjungpinang terus memperkuat sektor budaya dan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak utama ekonomi daerah.

Menurutnya, Tanjungpinang tidak hanya dikenal lewat Pulau Penyengat dan budaya Melayu Islam, tetapi juga memiliki beragam destinasi sejarah dan budaya lain yang potensial untuk dikembangkan.

“Kita bukan hanya punya Penyengat dan budaya Melayu identik Islam, tetapi juga punya kelenteng berusia lebih dari 300 tahun dan Patung Seribu,” ujarnya.

Penguatan ekonomi kreatif daerah juga didukung oleh pertumbuhan UMKM lokal. Berdasarkan data Pemko Tanjungpinang, jumlah usaha mikro pada 2025 mencapai 15.003 unit usaha, yang didominasi sektor kuliner.

Riono berharap kunjungan Bappenas ke Tanjungpinang dapat membuka peluang dukungan lebih luas bagi pengembangan sektor budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif di daerah tersebut.

“Kita apresiasi kunjungan Bappenas ke Kota Tanjungpinang. Mudah-mudahan ini bisa membantu penguatan perekonomian daerah, khususnya melalui sektor budaya dan pariwisata,” tutupnya. (***)

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *