Tanjungpinang (SN) – Mahasiswa memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan dan menangkal penyebaran paham ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Sebagai kelompok intelektual yang kritis dan dekat dengan dinamika sosial, mahasiswa diharapkan mampu menyuarakan aspirasi secara bijak tanpa mudah terpengaruh paham yang dapat mengancam keutuhan bangsa.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi pencegahan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Riau bekerja sama dengan STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang, Senin (2/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Mini Auditorium STISIPOL Raja Haji itu dihadiri jajaran pengurus FKPT Kepri, pimpinan STISIPOL Raja Haji, jajaran Komando Resor Militer (Korem) 033/Wira Pratama, serta puluhan mahasiswa yang mengikuti kegiatan dengan antusias.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Media Massa, Hukum, dan Humas FKPT Kepri, H. Suyono, menekankan pentingnya membangun kesadaran mahasiswa agar tidak mudah terpapar maupun dimanfaatkan oleh kelompok yang menyebarkan paham ekstremisme dan radikalisme.
Menurutnya, sikap kritis mahasiswa merupakan modal penting dalam menjaga kehidupan demokrasi. Namun, sikap tersebut juga harus dibarengi pemahaman kebangsaan agar penyampaian aspirasi tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.
“Inilah waktunya kita mencegah radikalisme di masyarakat, sekaligus memberi pemahaman kepada adik-adik mahasiswa untuk selalu waspada terhadap ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Karena mahasiswa itu kritis, pemahaman ini menjadi benteng saat menyuarakan aspirasi agar tidak dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab,” ujar Suyono.
Suasana kegiatan semakin dinamis ketika memasuki sesi diskusi panel. Tidak hanya menyimak materi wawasan kebangsaan, para mahasiswa juga aktif menyampaikan pandangan dan mengajukan pertanyaan kepada narasumber.
Salah satu pertanyaan menarik datang dari Muhammad Rocky, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan. Ia secara langsung mempertanyakan persoalan kekerasan yang kerap menjadi sorotan ketika mahasiswa menyampaikan aspirasi di ruang publik.
“Kenapa saat kami menyuarakan aspirasi selalu berakhir dengan kekerasan?” tanya Rocky kepada Perwira Seksi Intelijen (Pasi Intel) Korem 033/Wira Pratama, Mayor Inf Naibaho.
Pertanyaan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Mayor Inf Naibaho. Ia menegaskan bahwa TNI pada prinsipnya memiliki komitmen untuk melindungi masyarakat dan berada di tengah-tengah rakyat.
Menurutnya, apabila terjadi tindakan kekerasan dalam situasi tertentu, hal tersebut bisa saja dilakukan oleh oknum dan bukan mencerminkan prinsip institusi TNI secara keseluruhan.
“TNI selalu berpedoman untuk melindungi dan berada di tengah masyarakat. Jika ada kejadian kekerasan, mungkin itu dilakukan oleh oknum dan merupakan langkah paling akhir. Namun pada prinsipnya, kami selalu menyediakan ruang terbuka bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi secara akademik dan baik,” jelas Mayor Inf Naibaho.
Dialog tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan sosialisasi. Sebab, pencegahan radikalisme tidak hanya berbicara tentang kewaspadaan terhadap penyebaran paham berbahaya, tetapi juga membangun ruang komunikasi yang terbuka, kritis, dan saling menghargai antara masyarakat, mahasiswa, dan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan pun ditutup dengan pertukaran pandangan antara mahasiswa, FKPT Kepri, dan pihak TNI. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa diharapkan mampu mempertahankan sikap kritis dalam mengawal berbagai persoalan publik, sekaligus memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran ekstremisme dan radikalisme. (***)












