Example 728x250
Berita KepriNASIONAL

IMSIC 2026 Himpun Akademisi dari 17 Negara, Perkuat Kajian Islam dan Kemelayuan di Tingkat Internasional

7
×

IMSIC 2026 Himpun Akademisi dari 17 Negara, Perkuat Kajian Islam dan Kemelayuan di Tingkat Internasional

Sebarkan artikel ini
STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau akan menyelenggarakan The 3rd Islamic and Malay Studies International Conference (IMSIC) 2026 pada 11–12 November 2026. (F-STAIN SAR Kepri)
Example 728x250

Bintan (SN) – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau akan menyelenggarakan The 3rd Islamic and Malay Studies International Conference (IMSIC) 2026 pada 11–12 November 2026. Mengusung tema “Preserving Memory, Sustaining Culture, Empowering Communities for Sustainable Development”, konferensi internasional ini menjadi ruang pertemuan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk bertukar gagasan serta memperluas kajian mengenai kontribusi Islam dan kebudayaan Melayu terhadap pelestarian warisan budaya, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pembangunan berkelanjutan.

IMSIC 2026 mencatat 365 abstrak yang masuk, dengan 192 abstrak dinyatakan diterima. Partisipasi konferensi ini berasal dari 17 negara terdiri dari Indonesia, Malaysia, India, Nigeria, Belanda, Pakistan, Inggris, Bangladesh, Afganistan, USA, Turkey, Uzbekistan, Afrika selatan, China, Mesir, Albania, dan Filipina dengan keterlibatan 251 perguruan tinggi dan lembaga riset. Capaian tersebut menunjukkan jangkauan partisipasi akademik yang melibatkan berbagai institusi nasional maupun internasional dalam forum kajian Islam dan Kemelayuan.

IMSIC sebagai Langkah Strategis Internasionalisasi STAIN Kepri

Penyelenggaraan IMSIC merupakan bagian dari upaya STAIN Kepri memperluas kontribusi kelembagaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di tingkat internasional. Berada di wilayah perbatasan, STAIN Kepri memiliki posisi strategis untuk membangun hubungan akademik dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset, baik di dalam maupun luar negeri.

Ketua STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Prof. Dr. Azni, S.Ag., M.Ag., menyampaikan bahwa konferensi internasional ini menjadi salah satu langkah institusi dalam memperkuat riset, memperluas jejaring akademik, sekaligus memperkenalkan STAIN Kepri kepada komunitas pendidikan dan penelitian internasional.

“Sebagai perguruan tinggi Islam negeri yang berada di wilayah perbatasan, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau memiliki peluang sekaligus tanggung jawab untuk memperluas kontribusi akademiknya hingga tingkat internasional. Penyelenggaraan IMSIC menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat riset berskala internasional, memperluas jejaring akademik, serta memperkenalkan STAIN Kepri kepada komunitas pendidikan dan penelitian di tingkat nasional maupun global.

Kami berharap forum ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan akademisi, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset luar negeri. Melalui kolaborasi tersebut, kualitas penelitian di STAIN Kepri diharapkan semakin meningkat, menghasilkan karya ilmiah yang bermutu, dan memberikan dampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Dorong Penguatan Penelitian dan Kolaborasi Akademik

Dari perspektif pengembangan akademik, IMSIC menjadi wadah diseminasi hasil penelitian sekaligus ruang pertukaran gagasan antarakademisi. Melalui presentasi makalah dan diskusi ilmiah, peserta berkesempatan menyampaikan hasil kajian, memperoleh masukan, serta memperluas perspektif penelitian melalui interaksi dengan peneliti dari berbagai institusi dan negara.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STAIN Kepri, Dr. Fadhila Yonata, M.Pd., menjelaskan bahwa keterlibatan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset dalam konferensi ini membuka peluang pengembangan kolaborasi akademik dan peningkatan kualitas penelitian.

“IMSIC merupakan ruang diseminasi hasil penelitian yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai institusi. Melalui forum presentasi dan diskusi ilmiah, para peserta memiliki kesempatan untuk menyampaikan hasil kajian, memperoleh masukan akademik, serta memperluas perspektif penelitian melalui pertukaran gagasan dengan peneliti dari berbagai latar belakang keilmuan.

Keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga riset dari dalam maupun luar negeri juga memberikan peluang bagi pengembangan kolaborasi akademik. Kami berharap interaksi yang terbangun dalam konferensi ini dapat mendorong lahirnya penelitian yang lebih bermutu, memperkuat budaya publikasi ilmiah, dan menghasilkan kajian yang relevan serta berdampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai salah satu luaran kegiatan, IMSIC 2026 direncanakan menghasilkan prosiding ber-ISBN yang memuat karya ilmiah peserta sesuai dengan ketentuan penerbitan. Luaran tersebut diharapkan dapat memperluas diseminasi hasil penelitian dan menjadi bagian dari pengembangan publikasi ilmiah.

Tujuh Subtema Bahas Isu Islam, Budaya, Pendidikan, hingga Lingkungan

Untuk mengakomodasi beragam bidang kajian, IMSIC 2026 mengangkat tujuh subtema yang mencakup isu-isu strategis dalam pengembangan studi Islam dan Kemelayuan.

Ketujuh subtema tersebut meliputi Islamic Thought and Qur’anic Studies; Humanities, Heritage, and Cultural Memory; Islamic Education and Learning; Sharia, Islamic Law, and Legal Studies; Islamic Economics, Finance, and Halal Industry; Ecotheology, Environment, and Science; serta Language, Literature, and Malay Studies.

Ragam subtema tersebut memberikan ruang bagi peneliti untuk mengkaji hubungan antara pemikiran Islam, warisan budaya, pendidikan, hukum, ekonomi, lingkungan, bahasa, dan sastra Melayu. Cakupan ini sekaligus menempatkan kajian Islam dan Kemelayuan dalam dialog dengan persoalan kontemporer serta agenda pembangunan berkelanjutan.

Hadirkan Keynote Speaker dan Sembilan Pembicara dari Berbagai Institusi

IMSIC 2026 akan menghadirkan sembilan pembicara dari berbagai institusi dengan latar belakang keilmuan yang beragam. Kehadiran para akademisi tersebut diharapkan memperkaya diskusi dan memberikan perspektif lintas disiplin terhadap tema konferensi.

Salah satu pembicara utama yang dijadwalkan hadir adalah Prof. Dr. Suyitno, M.Ag., selaku keynote speaker. Selain itu, konferensi ini juga melibatkan akademisi dari perguruan tinggi dan institusi nasional maupun internasional.

Sementara itu, sembilan pembicara lainnya terdiri atas:

1. Prof. Dr. Jajang A. Rohmana, M.Ag. — Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia.
2. Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag. — Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia.
3. Dr. Vivienne Wee — Ethnographica Private Limited, Singapura.
4. Dr. Budi Waluyo, FHEA — Walailak University, Thailand.
5. Dr. Bronwyn Anne Beech Jones — University of Melbourne, Australia.
6. Dr. Cut Purnama Sari, M.Pd. — STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Indonesia.
7. Dr. Muhammad Lazim, Lc., M.A. — STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Indonesia.
8. Dr. H. Supri Yadin Hasibuan, Lc., M.Sy. — STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Indonesia.
9. Nadya Nela Rosa, M.Psi. — STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Indonesia.

Keberagaman latar belakang pembicara menjadi bagian penting dalam membangun dialog akademik lintas negara, khususnya dalam mempertemukan perspektif kajian Islam, kebudayaan, pendidikan, dan bidang ilmu terkait.

365 Abstrak Masuk, Panitia Matangkan Pelaksanaan Konferensi

Ketua Pelaksana IMSIC 2026, Dr. Syahrul Rahmat, M.Hum., menyampaikan bahwa hingga tahap penerimaan abstrak, konferensi ini mencatat 365 abstrak yang masuk dan 192 abstrak dinyatakan diterima. Partisipasi tersebut berasal dari 17 negara serta melibatkan 251 perguruan tinggi dan lembaga riset.

“Capaian ini menunjukkan antusiasme akademisi dan peneliti dari berbagai institusi untuk berpartisipasi dalam forum kajian Islam dan Kemelayuan. Konferensi akan menghadirkan sembilan pembicara dengan latar belakang keilmuan dan institusi yang beragam. Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui sesi panel (panel session) yang memberikan ruang bagi pemaparan materi, presentasi hasil penelitian, dan diskusi akademik,” jelasnya.

Menjelang pelaksanaan, panitia terus melakukan koordinasi dan pematangan teknis untuk memastikan seluruh rangkaian konferensi berjalan sesuai agenda yang telah disiapkan. Persiapan tersebut mencakup koordinasi pelaksanaan sesi, kesiapan pembicara, serta kebutuhan teknis peserta dan penyelenggara.

Melalui IMSIC 2026, STAIN Kepri berupaya memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan yang terbuka terhadap pertukaran gagasan dan kolaborasi lintas institusi. Forum ini juga diharapkan menjadi sarana memperluas jejaring akademik serta mendorong lahirnya penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. (Gby)

Sumber : STAIN SAR Kepri

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *