Example 728x250
KESEHATANNASIONAL

Deteksi Dini Jadi Kunci Jaga Kesehatan Jemaah Haji Saat Kepulangan

14
×

Deteksi Dini Jadi Kunci Jaga Kesehatan Jemaah Haji Saat Kepulangan

Sebarkan artikel ini
Kementerian Kesehatan memperkuat pengawasan kesehatan jemaah haji yang kembali dari Tanah Suci melalui deteksi dini dan active case finding di pintu masuk negara, Selasa (2/6/2026). (F-Kemenkes RI)

Tanggerang (SN) – Kementerian Kesehatan memperkuat pengawasan kesehatan jemaah haji yang kembali dari Tanah Suci melalui deteksi dini dan active case finding di pintu masuk negara. Upaya ini dinilai efektif menekan angka kesakitan dan kematian jemaah haji tahun ini.

Saat meninjau proses debarkasi kloter perdana Provinsi Banten di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (2/6/2026), Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus mengatakan skrining kesehatan yang dilakukan sejak fase keberangkatan telah memberikan hasil positif.

“Jadi waktu sebelumnya saya ke Asrama Haji Pondok Gede saat pemberangkatan, saya cek ada 14 calon jemaah haji yang dibatalkan pemberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal otomatis turun jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Benny dikutip dari laman resmi Kemenkes RI.

Pengawasan kesehatan juga dilakukan saat jemaah tiba di Indonesia. Petugas melakukan observasi visual dan pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermo scanner untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan maupun penyakit menular.

“Begitu kelihatan jemaah yang sudah pulang ini ada suspek tidak sehat, langsung dilakukan cek kesehatan. Dalam kloter ini ada enam orang yang dicek kesehatannya, sekarang masih ada yang diobservasi karena kondisi fisik menurun akibat kelelahan hingga timbul sakit,” ujarnya.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, mengatakan seluruh jemaah yang tiba menjalani proses active case finding. Jemaah yang menunjukkan gejala seperti batuk, pilek, atau demam akan langsung mendapatkan pemeriksaan lanjutan.

“Jika ditemukan gejala tersebut, jemaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tensi, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium,” jelas Naning.

Menurutnya, kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan saat kepulangan jemaah adalah serangan jantung dan sesak napas. Karena itu, tenaga kesehatan dan ambulans disiagakan selama 24 jam untuk memastikan penanganan cepat bagi jemaah yang membutuhkan.

Benny menegaskan keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. “Ini membuktikan sinergi lintas sektor berdampak pada penurunan kasus yang sangat drastis,” tegasnya. (***)

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *