Tanjungpinang (SN) – Kedai Kopi Abu Dafi turut mengambil bagian dalam mendukung penyelenggaraan Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 yang akan digelar pada 19-21 September 2026 di Batam dan Tanjungpinang.
Dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan dalam bentuk partisipasi, tetapi juga melalui upaya memperkenalkan produk kopi lokal kepada para peserta yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia.
Pemilik Kedai Kopi Abu Dafi, Nasrul Caniago, mengatakan pihaknya telah menyiapkan lebih dari 200 cup kopi untuk menjamu para delegasi pada hari terakhir pelaksanaan Fesmed yang dipusatkan di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Tanjungpinang.
Salah satu produk yang akan diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah kopi tubruk yang menjadi bagian dari produk unggulan Kedai Kopi Abu Dafi.
“Ini bentuk upaya dukungan kami atas penyelenggaraan Fesmed Selat Malaka nanti,” kata Nasrul.
Baca Juga : Fesmed Selat Malaka 2026 Digelar di Batam dan Tanjungpinang, Pulau Penyengat Jadi Titik Napak Tilas
Menurut Nasrul, keterlibatan Abu Dafi merupakan bentuk dukungan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal terhadap kegiatan yang mempertemukan insan pers serta delegasi dari berbagai daerah tersebut.
Ia berharap kehadiran Abu Dafi tidak hanya menjadi bagian dari dukungan terhadap Fesmed, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk lokal Tanjungpinang kepada masyarakat luar daerah.
“Kami berharap produk lokal Tanjungpinang juga bisa lebih dikenal oleh para peserta yang datang dari luar daerah,” ujarnya.
Kedai Kopi Abu Dafi pertama kali berdiri pada 2018 di Jalan D.I. Panjaitan, Tanjungpinang. Dari satu kedai, usaha tersebut terus berkembang hingga membuka jaringan melalui sistem waralaba.
Saat ini, jaringan Kedai Kopi Abu Dafi telah mencapai 19 cabang. Bahkan, pihaknya tengah mempersiapkan pembukaan tiga outlet baru di sejumlah wilayah di Kepulauan Riau.
Baca Juga : Pulau Penyengat Jadi Panggung Puncak Fesmed Selat Malaka 2026, AJI Angkat Warisan Pers dan Melayu
Tak hanya memperluas jaringan kedai, Abu Dafi juga mulai mengembangkan produk bubuk kopi sendiri. Biji kopi didatangkan dari Lampung, kemudian melalui proses roasting dan penggilingan sebelum siap disajikan kepada pelanggan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas sekaligus mempertahankan konsistensi cita rasa kopi di setiap cabang.
Nasrul menjelaskan, standardisasi menjadi salah satu hal penting dalam pengembangan bisnis kedai kopi. Karena itu, pelatihan bagi karyawan dilakukan agar proses pengolahan dan penyajian kopi di setiap outlet tetap mengikuti standar yang telah ditetapkan.
Menurutnya, keberlangsungan bisnis kedai kopi tidak semata-mata ditentukan oleh cita rasa. Pelayanan, kebersihan, hingga konsistensi produk juga menjadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.
“Jangka panjangnya kita bisa go national,” ujarnya.
Nasrul berharap Abu Dafi dapat terus berkembang dan memperluas jangkauannya, sekaligus menjadi salah satu produk lokal Tanjungpinang yang mampu dikenal lebih luas, tidak hanya di Kepulauan Riau tetapi juga hingga tingkat nasional. (***)












