Batam (SN) – Upaya penanganan banjir di Kota Batam terus menjadi perhatian serius Badan Pengusahaan (BP) Batam. Sebanyak puluhan titik banjir telah ditangani melalui berbagai program perbaikan infrastruktur, baik yang dilakukan langsung oleh BP Batam maupun melalui kolaborasi bersama Pemerintah Kota Batam.
Untuk memastikan penanganan yang dilakukan benar-benar efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat, Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, turun langsung meninjau sejumlah titik infrastruktur yang menjadi perhatian.
Peninjauan pertama dilakukan pada Selasa (25/8/2026). Li Claudia mengecek sejumlah lokasi, di antaranya Drainase Jalan S. Parman, Piayu; drainase di depan RS Graha Hermine, Batu Aji; Drainase Spillway Muka Kuning; serta ruas Simpang Pollux–Simpang Telkom yang direncanakan akan dipasang Penerangan Jalan Umum (PJU).
Di tiga titik drainase tersebut, Li Claudia melihat langsung kondisi saluran sekaligus progres penanganan yang tengah dilakukan. Langkah itu dilakukan untuk memastikan pembenahan drainase mampu menjawab persoalan di masing-masing kawasan dan mendukung upaya pengendalian banjir.
Sementara di ruas Simpang Pollux–Simpang Telkom, perhatian diarahkan pada kebutuhan penerangan jalan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat.
“Kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan. Infrastruktur seperti drainase maupun penerangan jalan memiliki manfaat yang langsung dirasakan masyarakat, sehingga perlu kita perhatikan dan evaluasi sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing lokasi,” kata Li Claudia.
Komitmen untuk memastikan penanganan berjalan tepat sasaran kembali ditunjukkan dua hari kemudian. Pada Kamis (27/8/2026), Li Claudia bersama Anggota/Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, dan jajaran meninjau dua titik drainase di Kelurahan Belian.
Kedua lokasi tersebut berada di Drainase Jalan Tengku Sulung, depan Perumahan Odessa, serta Drainase Jalan Hang Tuah, Taman Raya Tahap 4, tepat di depan SMP Negeri 28 Batam.
Peninjauan difokuskan pada sejumlah persoalan yang berpotensi menghambat aliran air, termasuk penumpukan material di dalam saluran. Kondisi tersebut dinilai perlu segera dievaluasi karena dapat memicu genangan hingga banjir saat intensitas hujan tinggi.
Tim juga melihat kebutuhan pembenahan fungsi drainase serta akses jalan inspeksi di sekitar saluran agar proses pemeliharaan dan penanganan dapat dilakukan secara optimal.
Li Claudia menegaskan bahwa pembangunan dan pembenahan infrastruktur harus berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, penanganan persoalan banjir tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan teknis, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Pembenahan infrastruktur yang kita lakukan harus berorientasi pada kenyamanan aktivitas harian warga. Di saat yang sama, peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sangat dibutuhkan agar fungsi drainase tetap optimal,” ujarnya.
Senada dengan itu, Mouris Limanto mengatakan evaluasi lapangan akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap langkah penanganan sesuai dengan kondisi aktual di masing-masing wilayah.
“Tim teknis kami akan terus melakukan evaluasi berkala di lapangan agar formulasi penanganan tepat sasaran sesuai kondisi aktual,” kata Mouris.
Salah satu hasil nyata dari program penanganan banjir tersebut kini telah dirasakan masyarakat di kawasan Simpang Kabil atau Simpang Kepri Mal.
Melalui skema proyek multiyears 2026–2027, BP Batam melakukan peningkatan saluran drainase di kawasan tersebut. Setelah penanganan dilakukan, genangan yang sebelumnya kerap muncul setiap kali hujan kini disebut sudah tidak lagi dirasakan masyarakat.
Capaian penanganan titik-titik banjir ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan BP Batam bersama Pemerintah Kota Batam dalam membenahi infrastruktur dasar. (***)












