Example 728x250
Berita KepriNASIONAL

Pulau Penyengat, Jejak Kejayaan Melayu yang Menjadi Cikal Bakal Bahasa Indonesia

13
×

Pulau Penyengat, Jejak Kejayaan Melayu yang Menjadi Cikal Bakal Bahasa Indonesia

Sebarkan artikel ini
Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV bertajuk "Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu", Sabtu (4/7/2026). (F-Diskominfo Kepri)

Tanjungpinang (SN) – Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang bukan sekadar destinasi wisata sejarah. Pulau kecil yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga ini menyimpan jejak kejayaan peradaban Melayu sekaligus memiliki peran penting dalam lahirnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV bertajuk “Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu”, Sabtu (4/7/2026).

Ansar menjelaskan, pada masa kejayaannya Pulau Penyengat menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang wilayah kekuasaannya membentang hingga Riau, Lingga, Johor, Pahang, dan Singapura. Dari pulau inilah lahir berbagai pemikiran, karya sastra, serta tradisi intelektual yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu.

Nama Pulau Penyengat sendiri berasal dari kisah para nelayan dan pelaut yang dahulu singgah untuk mengambil air bersih, namun diserang kawanan lebah atau serangga penyengat. Dalam sejarah Melayu, pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin, karena dipercaya menjadi mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah.

Sejak saat itu, Pulau Penyengat berkembang menjadi pusat pemerintahan, agama, pendidikan, dan kebudayaan Melayu. Hingga kini, sedikitnya terdapat 46 situs cagar budaya yang masih berdiri sebagai saksi kejayaan masa lalu.

Salah satu peninggalan paling ikonik adalah Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat yang dibangun menggunakan campuran pasir, kapur, dan putih telur sebagai perekat bangunan. Masjid bersejarah tersebut masih kokoh berdiri dan menjadi simbol kecanggihan arsitektur masyarakat Melayu pada masanya.

Pulau Penyengat juga dikenal sebagai Pulau Penyair karena tradisi literasi yang berkembang pesat sejak abad ke-19. Bahkan, percetakan telah berdiri di pulau itu sejak 1886 sehingga melahirkan ratusan manuskrip karya para ulama, bangsawan, dan kaum perempuan yang kini menjadi warisan intelektual bangsa.

Tokoh paling berpengaruh dari Pulau Penyengat adalah Raja Ali Haji, Pahlawan Nasional yang melahirkan karya-karya monumental seperti Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, dan Tuhfat al-Nafis. Melalui karya-karyanya, Raja Ali Haji meletakkan dasar perkembangan bahasa Melayu modern yang kemudian menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.

Menurut Ansar, bahasa Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau dipilih sebagai bahasa persatuan karena telah lama digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah serta mudah diterima oleh berbagai suku di Nusantara.

Sebagai upaya menjaga warisan sejarah tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau saat ini tengah membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat. Monumen yang berdiri di atas lahan sekitar dua hektare itu diharapkan menjadi pusat edukasi sejarah perkembangan Bahasa Indonesia sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya bertaraf nasional.

“Pulau Penyengat bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga pusat pembelajaran tentang identitas budaya Melayu dan perjalanan lahirnya Bahasa Indonesia yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Ansar. (***)

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *