Example 728x250
BatamBerita KepriOLAHRAGA

IPSI Kepri: Pencak Silat Bukan Sekadar Medali, Tapi Marwah Budaya Melayu

6
×

IPSI Kepri: Pencak Silat Bukan Sekadar Medali, Tapi Marwah Budaya Melayu

Sebarkan artikel ini
Bidang Seni Budaya IPSI Kepri menilai arah kebijakan organisasi saat ini terlalu berfokus pada olahraga prestasi dan mulai menjauh dari akar utama pencak silat sebagai warisan budaya Melayu. Hal itu disampaikan dalam forum pembahasan program kerja IPSI di Batam, Minggu (10/5/2026). (F-Yoan)

Batam (SN) – Di tengah ambisi besar membawa pencak silat Indonesia ke panggung olahraga dunia, kritik tajam justru muncul dari internal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kepulauan Riau. Bidang Seni Budaya IPSI Kepri menilai arah kebijakan organisasi saat ini terlalu berfokus pada olahraga prestasi dan mulai menjauh dari akar utama pencak silat sebagai warisan budaya Melayu.

Kritik tersebut disampaikan dalam forum pembahasan program kerja IPSI di Batam, Minggu (10/5/2026), melalui dokumen pandangan umum Bidang Seni Budaya IPSI Kepri. Dalam dokumen itu disebutkan, orientasi besar menuju kompetisi global dan target Olimpiade berpotensi mengikis identitas budaya pencak silat tradisional yang selama ini hidup di tengah masyarakat Melayu.

Ketua Bidang Seni Budaya IPSI Kepri, Dicko Asmara, menegaskan bahwa pencak silat tidak boleh dipandang sekadar cabang olahraga. Menurutnya, pencak silat merupakan sistem budaya yang memiliki dimensi spiritual, adat, etika, dan sejarah panjang masyarakat Melayu.

“Pencak silat memiliki empat aspek yang tidak terpisahkan, yakni mental spiritual, seni budaya, bela diri, dan olahraga prestasi. Namun arah kebijakan hari ini terlihat terlalu condong pada olahraga prestasi,” ujarnya.

Dicko menilai dominasi program seperti pelatnas, sport science, hingga target Olimpiade membuat aspek seni budaya hanya menjadi pelengkap seremonial. Ia mengingatkan, jika kondisi itu terus berlangsung, IPSI berisiko kehilangan akar budaya yang justru menjadi identitas utama pencak silat di mata dunia.

“Kepulauan Riau adalah salah satu hulu sejarah pencak silat Melayu. Jangan sampai daerah ini hanya menjadi ladang atlet untuk mendulang medali, tetapi kehilangan fungsi sebagai benteng budaya pencak silat Melayu,” katanya.

Kekhawatiran tersebut diperkuat laporan Bidang Seni Budaya IPSI Kepri periode 2022–2026 yang menyebut pembinaan seni budaya selama ini berjalan dengan keterbatasan anggaran dan lebih banyak ditopang semangat swadaya komunitas budaya serta lembaga adat.

Berbagai kegiatan seperti Festival Silat Serumpun, Workshop Silat Adat Melayu, Dialog Silat Tradisi, hingga Kenduri Pendekar Silat Pulau Paku disebut lebih banyak terlaksana berkat dukungan komunitas dibanding dukungan maksimal organisasi.

Sementara itu, anggota Bidang Seni Budaya IPSI Kepri sekaligus Ketua Umum Lembaga Pelestari Nilai Adat dan Tradisi Kepri, Yoan S Nugraha, menilai pendekatan modern dalam pencak silat berisiko mematikan kekayaan gerak dan filosofi silat tradisi di daerah pesisir Melayu Kepri.

“Ketika semua diseragamkan demi kebutuhan kompetisi, identitas lokal perlahan akan hilang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti belum adanya program serius untuk mendata dan mendokumentasikan aliran silat tradisi di pulau-pulau terluar Kepri. Menurutnya, tanpa dokumentasi budaya, diplomasi internasional pencak silat hanya akan menjual teknik fisik tanpa filosofi.

Sebagai solusi, Bidang Seni Budaya IPSI Kepri mengusulkan sejumlah program strategis, mulai dari pendataan aliran silat tradisi melalui “Kepri Silat Heritage Mapping”, program “Maestro Goes to School”, hingga pengembangan “Kampung Silat Tradisi” di Batam dan Bintan sebagai pusat wisata budaya dan pembelajaran silat Melayu.

Bagi mereka, keberhasilan pencak silat tidak hanya diukur dari medali dan prestasi olahraga, tetapi juga dari kemampuan menjaga warisan budaya bangsa.

“Pencak silat tanpa tradisi hanyalah olahraga perkelahian biasa. Namun pencak silat dengan tradisi adalah martabat bangsa,” demikian penegasan Bidang Seni Budaya IPSI Kepri. (***)

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *