Ketua Komisi XIII DPR RI Dorong Digitalisasi Imigrasi: “Kalau Masih Manual, Kita Menampar Diri Sendiri”

Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, melontarkan pernyataan tegas dan menggugah soal pentingnya modernisasi sistem imigrasi Indonesia. Hal itu disampikan dalam kunjungan kerjanya ke Batam, Kepulauan Riau, Kamis (28/8/2025). (F-Ist)

Batam (SN) – Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, melontarkan pernyataan tegas dan menggugah soal pentingnya modernisasi sistem imigrasi Indonesia. Dalam kunjungan kerjanya ke Batam, Kepulauan Riau, Kamis (28/8/2025), Willy menyebut era disrupsi tak bisa dihadapi dengan sistem lawas.

“Kalau kita tidak memanfaatkan big data dan Internet of Things, kita justru mempermalukan diri kita sendiri,” tegasnya, sebagaimana dikutip dari laman DPR RI.

Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi, termasuk Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam, Hajar Aswad, dan Kepala Kantor Ditjen Imigrasi Kepulauan Riau, Ujo Sutojo.

Menurut Willy, Indonesia harus belajar dari negara tetangga seperti Singapura, yang telah jauh melangkah dalam digitalisasi layanan keimigrasian dan keamanan perbatasan.

“Singapura sudah bisa deteksi isi ponsel dan kadar alkohol seseorang saat masuk negaranya. Kita? Masih pakai cara manual. Ini ibarat kita sedang menampar diri sendiri,” ujarnya lantang.

Willy mendorong Direktorat Jenderal Imigrasi untuk segera menghadirkan kembali layanan berbasis aplikasi digital yang pernah dikembangkan saat pandemi COVID-19. Bahkan, ia menantang Batam untuk jadi pelopor sistem digital khusus.

“Dulu kita punya aplikasi saat Covid. Kenapa sekarang tidak dikembangkan lagi? Batam bisa jadi proyek percontohan. Jangan ragu, yang penting ada perubahan nyata,” serunya.

Tak hanya digitalisasi, Willy juga menekankan pentingnya instrumen survei sebagai alat pemantau kinerja layanan imigrasi di lapangan. Ia bahkan memberi sinyal keras bahwa Komisi XIII akan melakukan evaluasi serius jika masukan ini diabaikan.

Willy juga menyinggung strategi geostrategis dalam pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), serta pentingnya kolaborasi erat antara Ditjen Imigrasi dan Badan Pengusahaan (BP) Batam. Menurutnya, keberadaan infrastruktur dan kebijakan imigrasi di daerah perbatasan harus membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.

“Kita jangan cuma jadi penonton. Event besar seperti Pacu Jalur bisa mendunia, tapi rakyat di sini cuma dapat riuhnya. Harus ada efek domino untuk ekonomi lokal,” tegas Willy.

Menutup pernyataannya, Willy mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersatu memperkuat sistem imigrasi demi kepentingan bangsa.

“Ini bukan soal ego instansi. Ini soal masa depan kita. Mau terus tertinggal, atau mulai berbenah hari ini?” pungkasnya. (SN)

Editor : Mukhamad

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *