Tanjungpinang (SN) – Rasa takut berbicara dalam bahasa Inggris masih menjadi tantangan besar bagi banyak generasi muda di Kepulauan Riau, terutama mereka yang berasal dari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kecemasan saat berbicara, takut melakukan kesalahan, hingga kurang percaya diri kerap menjadi penghambat berkembangnya kemampuan bahasa Inggris yang sebenarnya sangat dibutuhkan di era global saat ini.
Menjawab persoalan tersebut, EnglishClinic Consultant (EC) bersama Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (HIMA PBI) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menggelar Talkshow Pembangunan SDM Penerus bertajuk “Self-Care for Language Learners: Strategies for Managing Stress and Anxiety” pada Sabtu (6/6/2026) di Auditorium UMRAH Dompak.
Kegiatan diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa UMRAH, pelajar dan pemuda Kota Tanjungpinang serta Kabupaten Bintan, hingga perwakilan masyarakat pesisir seperti Desa Sebong Lagoi Pereh. Kehadiran Kepala Desa Sebong Lagoi Pereh di tengah peserta menjadi bukti dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di wilayah pesisir.
Founder EnglishClinic Consultant sekaligus narasumber utama, R. Hendra Sukmana Raja B, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari realitas yang sering ditemuinya saat melakukan survei dan pendampingan pembelajaran bahasa Inggris di berbagai daerah pesisir Kepulauan Riau.
Menurutnya, banyak anak muda memiliki potensi besar, namun terhambat oleh ketakutan dan kecemasan saat harus menggunakan bahasa Inggris dalam situasi nyata.
“Banyak anak Kepri yang akhirnya kalah saing saat memasuki Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) hanya karena mereka lemah atau minder dengan skill bahasa Inggris mereka. Padahal, potensi kerja di sektor pariwisata dan industri internasional di Kepri sangat masif, seperti di kawasan Bintan dan sekitarnya,” ujar Hendra.
Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada kemampuan akademik semata, melainkan pada hambatan psikologis yang membuat peserta didik enggan mencoba dan takut melakukan kesalahan.
Karena melihat pentingnya persoalan tersebut, Hendra bahkan memutuskan untuk menggratiskan seluruh biaya partisipasi dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan SDM muda Kepri.
“Mereka mau bayar, saya tolak. Ini murni gerakan motivasi dan kepedulian demi mengubah mentalitas SDM muda Kepri. Anak muda Kepri jangan cengeng. Kita harus berani melawan rasa takut itu,” tegasnya disambut antusias peserta.
Dalam sesi talkshow, peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang pentingnya penguasaan bahasa Inggris, tetapi juga dibekali strategi mengelola stres dan kecemasan saat belajar bahasa asing. Para narasumber menekankan bahwa kesalahan dalam pengucapan maupun tata bahasa merupakan bagian alami dari proses belajar yang tidak perlu ditakuti.
Melalui pendekatan self-care for language learners, peserta diajak membangun pola pikir yang lebih sehat dan positif terhadap proses pembelajaran. Mereka didorong untuk fokus pada keberanian berkomunikasi daripada terlalu khawatir terhadap kesempurnaan bahasa.
Menariknya, pembelajaran tidak berhenti di dalam ruang auditorium. Para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan langsung kemampuan berbahasa Inggris dengan melakukan wawancara kepada wisatawan mancanegara di kawasan Bintan.
Kegiatan lapangan tersebut menjadi ajang pembuktian bahwa ketakutan yang selama ini dirasakan sebagian besar peserta dapat diatasi ketika mereka berani keluar dari zona nyaman dan mulai berinteraksi secara langsung.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan positif yang disampaikan setelah kegiatan berakhir. Salah satunya datang dari Melia, peserta asal Desa Sebong Lagoi Pereh yang mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai cara menghadapi kecemasan dalam belajar bahasa Inggris.
“Salah satu alasan kami jauh-jauh ikut serta dalam talkshow ini karena melihat dua narasumber yang luar biasa, dan bagi kami topik ini sangat relevan dengan tantangan yang sering dihadapi saat belajar bahasa Inggris. Alhamdulillah, banyak pembelajaran yang dapat kami ambil seperti cara mengelola stres dan kecemasan,” kata Melia.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak anak muda Kepri yang memperoleh motivasi dan pendampingan dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat, materinya mudah dipahami, dan memberikan banyak tips praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga ke depannya semakin banyak talkshow edukatif seperti ini yang dapat membantu peserta mengembangkan kemampuan sekaligus menjaga kesehatan mental dalam proses belajar,” tambahnya. (***)













