Tanjungpinang (SN) – Cuaca panas di Tanjungpinang dalam beberapa hari terakhir kian terasa tidak nyaman.
Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dilansir Rabu, 25 Maret 2026, menunjukkan indeks panas Tanjungpinang masuk kategori buruk (bad heat index quality).
Kombinasi suhu dan kelembapan tinggi membuat cuaca terasa lebih menyengat dari angka sebenarnya. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi warga.
BMKG menjelaskan, heat index atau indeks panas menggabungkan suhu udara dan kelembapan relatif untuk mengukur tingkat kenyamanan manusia terhadap cuaca.
Empat kecamatan di kota ini mencatat indeks panas ekstrem di kisaran 32°C hingga 33°C. Angka ini bukan sekadar suhu udara, melainkan hasil kombinasi suhu dan kelembapan yang memperparah sensasi panas di tubuh.
Indeks panas Tanjungpinang yang tinggi menandakan tubuh manusia menerima beban panas lebih besar. Dalam kondisi ini, aktivitas luar ruangan menjadi lebih berisiko, terutama pada siang hari.
BMKG menyebut, bahwa indeks panas Tanjungpinang pada level buruk dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Masyarakat perlu mewaspadai dampak paparan panas berlebih, terutama saat matahari berada di puncak.
BMKG juga mengimbau warga untuk membatasi aktivitas luar ruangan, menghindari paparan langsung sinar matahari, dan memastikan asupan cairan tubuh tetap terpenuhi.
Menurut BMKG, lonjakan indeks panas Tanjungpinang membawa konsekuensi serius bagi kesehatan. Risiko yang muncul meliputi dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), serta sengatan panas (heat stroke).
Untuk menekan dampak tersebut, BMKG merekomendasikan langkah antisipasi, berupa, menutup jendela saat siang hari untuk mengurangi panas masuk, menggunakan kipas atau pendingin ruangan, dan memperbanyak konsumsi air.(***)













