Example 728x250
KESEHATANTanjungpinang

Kasus Malaria Tembus 518, Sejumlah Wilayah Tanjungpinang Mendekati Zona Merah

3
×

Kasus Malaria Tembus 518, Sejumlah Wilayah Tanjungpinang Mendekati Zona Merah

Sebarkan artikel ini
Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, menegaskan bahwa penanganan malaria tidak bisa hanya mengandalkan sosialisasi atau imbauan semata. (F-Diskominfo Tpi)

Tanjungpinang (SN) – Penyakit malaria kini menjadi ancaman serius bagi Kota Tanjungpinang. Jumlah kasus yang terus bertambah hingga mencapai 518 kasus membuat sejumlah wilayah berada pada tingkat kerawanan tinggi dan bahkan mendekati zona merah.

Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, menegaskan bahwa penanganan malaria tidak bisa hanya mengandalkan sosialisasi atau imbauan semata. Dibutuhkan komunikasi yang lebih intens dan keterlibatan aktif masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Lis usai bersilaturahmi dengan warga Tanjung Sebauk dan Senggarang, Kelurahan Senggarang, Kecamatan Kota Tanjungpinang, Selasa (23/6/2026) malam.

Menurutnya, kondisi saat ini harus menjadi perhatian bersama karena beberapa wilayah menunjukkan tingkat paparan yang cukup mengkhawatirkan.

“Penanganan malaria tidak bisa hanya dengan imbauan, tetapi harus mengajak masyarakat bergerak bersama. Ini menjadi tugas kita semua,” ujar Lis.

Ia menekankan, pemerintah akan terus memberikan dukungan melalui berbagai langkah penanganan. Namun, keberhasilan menekan angka kasus sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan potensi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Setiap warga perlu melakukan tindakan preventif untuk dirinya masing-masing. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.

Data di lapangan menunjukkan penyebaran malaria masih menjadi tantangan besar, khususnya di wilayah Senggarang. Lurah Senggarang, Edi Susanto, mengungkapkan terdapat enam titik sebaran malaria dengan tingkat paparan yang berbeda-beda.

Wilayah Tanjung Sebauk Darat menjadi daerah dengan jumlah keluarga terdampak tertinggi. Dari 122 kepala keluarga (KK), sebanyak 109 KK tercatat terinfeksi malaria. Sementara Kampung Bebek mencatat 15 KK terdampak, Senggarang Darat 17 KK, Senggarang Besar 16 KK, dan Tanjung Sebauk Laut 88 KK.

Meski beberapa wilayah mulai menunjukkan perkembangan positif, ancaman penyebaran penyakit belum sepenuhnya terkendali.

“Sejumlah wilayah seperti Tanjung Sebauk Darat, Kampung Bebek, dan Senggarang Darat sudah mulai aman. Namun Senggarang Besar dan Tanjung Sebauk Laut masih belum landai,” jelas Edi.

Berbagai langkah penanganan telah dilakukan pemerintah bersama Dinas Kesehatan, Damkar, relawan, serta perangkat RT dan RW. Salah satunya melalui intervensi lingkungan dengan penaburan obat pada genangan air bekas tambang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, Rustam, menyebut penanganan malaria dilakukan secara aktif maupun pasif. Petugas kesehatan tidak hanya menunggu laporan pasien, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk menemukan kasus dan melakukan pemeriksaan dini.

“Petugas kami melakukan survei demam, penemuan kasus, sekaligus edukasi kepada masyarakat agar segera berobat jika mengalami gejala demam dan mengikuti pengobatan sampai tuntas,” ujarnya.

Rustam menjelaskan, pengobatan malaria memerlukan waktu sekitar 14 hari. Karena itu, kedisiplinan pasien dalam menyelesaikan pengobatan menjadi faktor penting untuk mencegah penularan berulang dan memastikan kesembuhan.

Selain pengobatan, upaya pengendalian juga dilakukan melalui peningkatan kebersihan lingkungan, penanganan kawasan rawa yang menjadi habitat nyamuk, hingga pelaksanaan fogging sebanyak dua siklus untuk membasmi nyamuk dewasa.

“Saat ini, pemerintah memfokuskan pengendalian pada sekitar 58 titik rawa kecil yang teridentifikasi sebagai lokasi perindukan nyamuk,” terangnya.

Meski tren penurunan kasus mulai terlihat di beberapa wilayah seperti Sebauk Darat dan Kampung Bebek, Dinas Kesehatan mengingatkan bahwa ancaman malaria belum berakhir. Sebauk Laut dan Senggarang Besar masih menjadi daerah dengan angka kasus relatif tinggi.

Pemerintah juga mengingatkan bahwa wilayah yang sudah mengalami penurunan kasus tetap berisiko kembali mengalami lonjakan apabila pengobatan pasien tidak diselesaikan hingga tuntas dan kebersihan lingkungan tidak terus dijaga. (***)

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *