Example 728x250
BatamEKONOMI

Investasi Korsel di Batam Tembus Rp1,175 Triliun, BP Batam Bidik Industri Penerbangan

4
×

Investasi Korsel di Batam Tembus Rp1,175 Triliun, BP Batam Bidik Industri Penerbangan

Sebarkan artikel ini
BP Batam membidik peluang investasi dari Korea Selatan. Melalui partisipasi dalam South Korea Aero Summit 2026 dan pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, BP Agenda penjajakan investasi tersebut berlangsung pada Rabu (21/10/2026). (F-BP Batam)

Batam (SN) – Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) semakin agresif membidik peluang investasi dari Korea Selatan. Melalui partisipasi dalam South Korea Aero Summit 2026 dan pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, BP Batam berupaya memperkuat kerja sama bisnis sekaligus menarik investasi baru, terutama di sektor penerbangan, logistik, dan industri berteknologi tinggi.

Langkah ini menjadi momentum strategis di tengah lonjakan realisasi investasi Korea Selatan di Batam yang mencapai Rp1,175 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut melonjak 4.169,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, sekaligus mencapai sekitar 34 kali lipat dari total investasi Korea Selatan sepanjang tahun lalu.

Agenda penjajakan investasi tersebut berlangsung pada Rabu (21/10/2026), dengan melibatkan Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, yang didampingi Anggota/Deputi Bidang Administrasi dan Keuangan BP Batam, Alexander Zulkarnain, serta Direktur Badan Usaha Kawasan Bandara BP Batam, Kurnia Budi.

Berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI, realisasi investasi Korea Selatan di Batam pada semester I 2026 mencapai sekitar USD65,1 juta. Capaian tersebut menempatkan Korea Selatan sebagai investor asing terbesar ketiga di Batam, dengan kontribusi 6,60 persen terhadap total penanaman modal asing.

Lonjakan investasi tersebut juga diikuti perubahan profil penanaman modal. Jika pada 2025 investasi Korea Selatan tersebar di sektor perikanan, alat transportasi, mesin dan elektronik, serta kimia dan farmasi, pada semester I 2026 investasinya terkonsentrasi pada sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.

Dari total investasi Rp1,175 triliun, sekitar Rp1,170 triliun atau 99,6 persen mengalir ke sektor tersebut, terutama melalui PT Bandara Internasional Batam.

Perkembangan ini memperkuat posisi infrastruktur dan konektivitas sebagai salah satu pintu masuk untuk menarik investasi lanjutan. BP Batam pun berupaya memanfaatkan momentum tersebut dengan memperkenalkan potensi pengembangan Bandara Internasional Hang Nadim kepada pelaku industri dan investor Korea Selatan.

Dalam South Korea Aero Summit yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026, Fary Djemy Francis memaparkan peluang investasi di industri penerbangan, perawatan dan perbaikan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO), kargo udara, serta industri pendukung operasional bandara.

“Landasan pacu harus menjadi landasan tumbuhnya investasi dan kesejahteraan,” ujar Fary.

Menurutnya, pengembangan Hang Nadim tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas bandara. Lebih dari itu, pengembangan harus terintegrasi dengan kawasan industri dan rantai pasok global agar mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih luas.

Kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan kepercayaan investor juga menjadi fondasi penting untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif dan berkelanjutan.

Selain mengikuti forum industri penerbangan, delegasi BP Batam bertemu dengan KBRI Seoul dan diterima Wakil Duta Besar RI, Ali Andika Wardhana.

Pertemuan tersebut difokuskan pada identifikasi perusahaan Korea Selatan yang berpotensi memperluas bisnis ke Batam, fasilitasi pertemuan antarpelaku usaha, serta penjajakan kunjungan calon investor ke kawasan industri dan berbagai proyek strategis di Batam.

BP Batam ingin memaksimalkan keunggulan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas yang didukung empat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan 31 kawasan industri. Berbagai fasilitas tersebut menjadi modal untuk menarik perusahaan asing yang membutuhkan lokasi strategis, akses perdagangan internasional, serta ekosistem industri yang terintegrasi.

Sejumlah sektor potensial menjadi sasaran penjajakan, mulai dari elektronik dan semikonduktor, komponen kendaraan listrik, rekayasa presisi, industri penerbangan, logistik, hingga teknologi digital.

Melalui pendekatan langsung kepada calon investor dan penguatan diplomasi ekonomi, BP Batam berharap hubungan investasi dengan Korea Selatan tidak berhenti pada penjajakan, tetapi berkembang menjadi realisasi proyek yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian daerah.

Rangkaian kunjungan BP Batam ke Korea Selatan pada 20–24 Oktober 2026 juga mencakup pembelajaran mengenai pengelolaan bandar udara dan kawasan ekonomi di Incheon.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkaya referensi pengembangan Bandara Internasional Hang Nadim, terutama dalam membangun konektivitas udara, memperkuat layanan logistik, dan mengintegrasikan bandara dengan kawasan industri.

BP Batam menargetkan jejaring internasional yang dibangun melalui forum bisnis dan pertemuan kelembagaan dapat diterjemahkan menjadi peluang investasi konkret, penguatan industri, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat Batam.

Dengan meningkatnya minat investasi Korea Selatan dan besarnya potensi pengembangan Hang Nadim, Batam berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu simpul industri, logistik, dan konektivitas internasional di kawasan Asia Tenggara. (***)

Penulis

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *