Tanjungpinang (SN) – Pulau Penyengat kembali menjadi pusat perhatian. Di tengah suasana hangat Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, bersama sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, melaksanakan Salat Jumat berjamaah di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, Jumat (29/5/2026).
Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi agenda keagamaan, tetapi juga momentum mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat di Pulau Penyengat, pulau bersejarah yang dikenal sebagai pusat peradaban Melayu dan salah satu tonggak perkembangan bahasa Indonesia.
Usai Salat Jumat, Wagub Nyanyang menyempatkan diri menyapa warga, tokoh agama, dan jamaah yang hadir. Melalui kegiatan Jumat Berkah, suasana kebersamaan dan kekeluargaan begitu terasa di lingkungan masjid yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Kepri tersebut.
Menurut Nyanyang, Pulau Penyengat memiliki posisi istimewa dalam perjalanan sejarah Kepulauan Riau. Selain menjadi destinasi wisata religi dan sejarah, pulau ini juga menyimpan warisan budaya Melayu yang hingga kini tetap hidup dan menjadi identitas masyarakat.
“Pulau Penyengat bukan hanya destinasi wisata sejarah dan religi, tetapi juga simbol peradaban Melayu yang harus terus kita jaga bersama. Kehadiran kami di sini juga menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan silaturahmi dengan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan Iduladha menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kepedulian sosial, semangat gotong royong, dan persaudaraan.
“Iduladha mengajarkan kita tentang keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Melalui kegiatan sederhana seperti Jumat Berkah ini, kita ingin terus menumbuhkan rasa kebersamaan dan memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat,” tambahnya.
Kehadiran Wakil Gubernur di Pulau Penyengat pun disambut hangat oleh masyarakat. Di bawah naungan kemegahan Masjid Raya Sultan Riau Penyengat yang sarat nilai sejarah, pertemuan tersebut menjadi simbol kuatnya hubungan antara pemerintah dan warga dalam menjaga warisan budaya Melayu yang telah menjadi kebanggaan Kepulauan Riau. (***)













