Kasus DBD di Tanjungpinang Melonjak Tajam, 478 Warga Terjangkit Sepanjang 2025

Ilustrasi nyamuk penyebab demam berdarah (Foto: Istimewa Kemenkes)

Tanjungpinang (SN) – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tanjungpinang melonjak tajam sepanjang tahun 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanjungpinang mencatat, sebanyak 478 kasus DBD terjadi selama satu tahun terakhir, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Dinkes Tanjungpinang, Rustam, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bahkan, memasuki awal tahun 2026, kasus baru DBD kembali ditemukan.

“Data kami menunjukkan kasus DBD tahun 2025 meningkat cukup tajam dibandingkan tahun 2024. Bahkan hingga awal Januari 2026 ini sudah tercatat 14 kasus,” ujar Rustam, Kamis (8/1/2026).

Dari total 18 kelurahan di Kota Tanjungpinang, Kelurahan Batu 9 dan Pinang Kencana menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Batu 9 mencatat 127 kasus, disusul Pinang Kencana sebanyak 113 kasus.

Sementara itu, beberapa kelurahan lain juga menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Kelurahan Melayu Kota Piring tercatat 40 kasus, Tanjung Ayun Sakti 34 kasus, serta Sungai Jang dan Air Raja masing-masing 28 kasus. Adapun kelurahan lainnya mencatat jumlah kasus yang bervariasi, mulai dari nol hingga belasan kasus.

Jika dibandingkan dengan tahun 2024, lonjakan ini tergolong signifikan. Pada tahun lalu, total kasus DBD di Tanjungpinang tercatat 277 kasus, dengan sebaran tertinggi juga berada di Batu 9 sebanyak 46 kasus dan Pinang Kencana 64 kasus.

Berdasarkan kelompok usia, penderita DBD paling banyak berasal dari usia 15 tahun ke atas, yakni sekitar 48 persen dari total kasus. Disusul kelompok usia 10–14 tahun sebesar 24 persen, 5–9 tahun sekitar 19 persen, 1–4 tahun sebesar 7 persen, dan usia di bawah satu tahun sekitar 3 persen.

Rustam menambahkan, lonjakan kasus paling terasa pada semester kedua tahun 2025, terutama saat musim hujan.

“Dalam enam bulan terakhir tahun 2025, rata-rata kami menemukan sekitar 40 hingga 50 kasus setiap bulan. Puncaknya terjadi menjelang akhir tahun, seiring intensitas hujan yang tinggi,” jelasnya.

Ia juga mengakui bahwa penanganan DBD masih menghadapi sejumlah kendala, terutama rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara mandiri dan berkelanjutan.

“Kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan utama. Padahal, pencegahan paling efektif justru dimulai dari lingkungan rumah masing-masing,” kata Rustam.

Untuk menekan angka kasus DBD, Dinkes Tanjungpinang terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar menerapkan program 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk aktif menerapkan 3M secara rutin. Tanpa peran serta warga, upaya pengendalian DBD tidak akan maksimal,” pungkasnya. (ML-SN)

Editor : M Nazarullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *