Tanjungpinang (SN) – Kekeringan yang melanda Kota Tanjungpinang membuat banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Sepanjang Februari 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tanjungpinang telah menyalurkan ratusan ton air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Total sebanyak 611,9 ton air bersih telah didistribusikan kepada warga. Bantuan tersebut disalurkan melalui 114 kali pengiriman hingga awal Maret 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tanjungpinang, M. Yamin, melalui Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, Yeni Wilda, menjelaskan bahwa distribusi air dilakukan secara bertahap berdasarkan laporan dari masyarakat.
“Air bersih disalurkan berdasarkan laporan dari RT dan RW, kemudian diteruskan ke kelurahan sebelum diajukan ke BPBD,” ujar Yeni, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, hampir 18 kelurahan di Tanjungpinang telah mengajukan permintaan bantuan air bersih. Beberapa wilayah yang paling sering mengalami kekurangan air antara lain Batu 9, Kampung Bugis, dan Pinang Kencana.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BPBD mengerahkan berbagai armada pengangkut air, mulai dari lori tangki berkapasitas 5 ton, kendaraan Hilux berkapasitas 2 ton, hingga mobil L300 berkapasitas 1 ton yang dilengkapi tandon tambahan.
Tidak hanya itu, proses pendistribusian juga mendapat dukungan dari Dinas Sosial Kota Tanjungpinang dan BPBD Provinsi Kepulauan Riau yang menambah suplai air hingga 15 ton.
Pada awalnya, BPBD memanfaatkan sumber air dari sumur bor serta pasokan dari wilayah Tanjung Moco. Namun, setelah adanya koordinasi antara Wali Kota Lis Darmansyah dan pihak PDAM, kini distribusi air juga mengambil sumber dari Sungai Pulai.
“Alhamdulillah, berkat koordinasi wali kota, akhirnya kita diizinkan mengambil air dari Sungai Pulai,” tambah Yeni.
Meski dalam beberapa hari terakhir hujan mulai turun di sejumlah wilayah, permintaan air bersih dari masyarakat masih terus berdatangan. Namun, BPBD bersama pihak kelurahan mulai menunda pengajuan distribusi di daerah yang kondisinya sudah mulai membaik.
“Permintaan masih ada, tapi sudah mulai berkurang,” tutup Yeni. (***)

