Batam (SN) – Walikota Batam, Amsakar Achmad, secara resmi membuka kegiatan Pantun Tiga Serumpun sebuah perhelatan budaya yang mempertemukan tiga negara serumpun, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Kegiatan hasil kolaborasi Radio Republik Indonesia (RRI), Radio Televisyen Malaysia (RTM), dan Radio Televisyen Brunei (RTB) ini digelar di Kantor Wali Kota Batam, Kamis (23/4/2026), dalam suasana yang kental dengan nuansa Melayu.
Pembukaan acara berlangsung semarak dengan prosesi pemukulan kompang secara bersama oleh Amsakar dan para pimpinan delegasi dari ketiga negara. Momen ini menjadi simbol kuat persatuan budaya serumpun sekaligus menegaskan posisi Batam sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Melayu di kawasan regional.
Dalam sambutannya, Amsakar menyampaikan apresiasi hangat kepada Direktur Program dan Produksi RRI, Mistam Abdi, yang memiliki kedekatan emosional dengan Batam. Ia juga memberikan penghormatan kepada Ketua Delegasi RTM, Nor Zamsuni binti Ramli, serta Ketua RTB, Mohammad Akil Faiz.
“Selamat datang kembali kepada Bapak Mistam Abdi yang pernah bertugas di Batam. Momentum ini terasa seperti pulang kampung. Terima kasih atas dedikasi RRI dalam membangun kolaborasi ini,” ujar Amsakar.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pelestarian budaya Melayu tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas negara. Menurutnya, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam memiliki akar budaya yang sama, sehingga kegiatan seperti ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat identitas bersama di tengah derasnya arus globalisasi.
“Budaya bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi fondasi nilai bagi generasi. Di tengah arus globalisasi, nilai-nilai lokal kerap tergerus. Karena itu, jati diri harus terus dijaga,” tegasnya.
Amsakar juga menyinggung kekayaan Indonesia yang memiliki lebih dari 300 suku bangsa. Ia menekankan bahwa budaya adalah hasil proses panjang yang membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat—sebuah warisan yang harus terus dirawat.
Tak hanya itu, ia turut mengapresiasi pengakuan pantun sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO, yang diusulkan secara bersama oleh negara-negara serumpun.
Mengakhiri sambutannya, Amsakar menyampaikan pesan filosofis Melayu yang sarat makna sebagai penutup yang menggetarkan.
“Esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kegiatan Pantun Tiga Serumpun kolaborasi RRI, RTM, dan RTB secara resmi saya nyatakan dibuka,” tutupnya. (***)

